Agustus 2026 menjadi periode puncak musim kemarau di sebagian besar Indonesia. Berdasarkan pemutakhiran BMKG, puncak kemarau pada Agustus mencakup sekitar 48,84% wilayah daratan Indonesia.
Pada Dasarian I Agustus 2026, sebanyak 535 Zona Musim (ZOM) atau 76,5% wilayah telah memasuki musim kemarau. Curah hujan kategori rendah mendominasi 90,79% wilayah, sedangkan 87,28% wilayah mengalami hujan di bawah normal.
Meski kondisi kering lebih dominan, prakiraan cuaca Indonesia tetap menunjukkan potensi hujan dan angin kencang secara lokal. Pemetaan berikut merangkum kecenderungan cuaca berdasarkan analisis dan prakiraan mingguan BMKG sepanjang Agustus 2026.
Sumatra
Dominasi Kering/Cerah
Cuaca cerah hingga cerah berawan lebih dominan di Sumatra bagian selatan dan sebagian wilayah pesisir timur. Lampung, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, serta sebagian Riau dan Jambi perlu mewaspadai berkurangnya ketersediaan air dan peningkatan risiko kebakaran lahan.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Kepulauan Riau, Jambi, dan sebagian Lampung masih berpeluang mengalami hujan lokal. Sumatra Barat bahkan mencatat hujan sangat lebat mencapai 298 mm per hari pada awal Agustus.
Angin kencang juga beberapa kali diprakirakan berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Riau, dan Kepulauan Riau. Karena itu, cuaca Sumatra hari ini tetap perlu diperiksa sebelum melakukan perjalanan atau kegiatan luar ruangan.
Jawa
Dominasi Kering/Cerah
Sebagian besar Pulau Jawa berada dalam kategori kering. Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, serta kawasan utara Jawa berpotensi mengalami hari tanpa hujan yang panjang, suhu siang terasa terik, dan kelembapan udara lebih rendah.
Kondisi tersebut meningkatkan kebutuhan penghematan air sekaligus kewaspadaan terhadap kebakaran lahan, terutama di daerah dengan vegetasi mengering.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Hujan lokal masih mungkin muncul di Banten, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Timur. Jawa Barat sempat mencatat hujan 71 mm per hari pada awal Agustus, memperlihatkan bahwa hujan sedang hingga lebat tetap dapat terjadi di tengah musim kemarau.
Banten, Jawa Barat, dan Jawa Timur juga masuk dalam beberapa periode peringatan potensi angin kencang. Perubahan cuaca ekstrem di Indonesia dapat berlangsung cepat akibat pertumbuhan awan konvektif secara lokal.
Kalimantan
Dominasi Kering/Cerah
Sebagian besar Kalimantan cenderung mengalami curah hujan rendah. Kondisi kering menonjol di Kalimantan bagian barat, tengah, timur, dan selatan, disertai peningkatan titik panas serta risiko kebakaran hutan dan lahan.
BMKG juga mendeteksi sebaran asap di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan pada awal Agustus.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Kalimantan Utara masih berpeluang mengalami hujan sedang. Kalimantan Tengah juga masuk wilayah yang berpotensi hujan pada 21–24 Agustus, sedangkan Kalimantan Barat beberapa kali menghadapi potensi angin kencang.
Aktivitas MJO, Gelombang Kelvin, dan perlambatan angin dapat memicu pembentukan awan hujan di Kalimantan bagian barat dan utara. Masyarakat dapat memantau peringatan dini cuaca untuk mengantisipasi perubahan kondisi secara lokal.
Sulawesi
Dominasi Kering/Cerah
Cuaca cerah berawan dan curah hujan rendah mendominasi sebagian besar Sulawesi. Kondisi kering terutama perlu diperhatikan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan kawasan yang mengalami vegetasi mudah terbakar.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan masih berpotensi mengalami hujan lokal atau angin kencang pada beberapa periode.
Belokan angin dan aktivitas gelombang atmosfer dapat meningkatkan pertumbuhan awan di sebagian Sulawesi. Kondisinya cenderung tidak merata sehingga satu wilayah dapat cerah, sementara daerah terdekat mengalami hujan singkat disertai angin.
Bali dan Nusa Tenggara
Dominasi Kering/Cerah
Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur termasuk kawasan dengan dominasi kemarau paling kuat. Cuaca umumnya cerah, udara terasa kering, dan hujan diprakirakan terbatas.
Hari tanpa hujan yang panjang dapat meningkatkan risiko kekeringan, berkurangnya debit sumber air, dan kebakaran vegetasi. Pemantauan musim kemarau Indonesia penting bagi sektor pertanian, peternakan, serta pengelolaan air bersih.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Hujan lokal tetap mungkin terjadi, tetapi sifatnya terbatas dan tidak merata. Ancaman yang lebih menonjol adalah angin kencang, khususnya di Nusa Tenggara Timur serta beberapa wilayah Nusa Tenggara Barat.
Perairan selatan NTT juga berpotensi mengalami peningkatan kecepatan angin dan gelombang. Nelayan, operator kapal, dan wisatawan perlu memperhatikan informasi cuaca maritim BMKG.
Maluku
Dominasi Kering/Cerah
Curah hujan rendah diprakirakan mencakup banyak wilayah Maluku dan Maluku Utara. Periode cerah berawan dapat berlangsung lebih panjang, terutama ketika pengaruh El Niño dan IOD positif mengurangi pasokan uap air.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Maluku dan Maluku Utara masih berpotensi mengalami hujan lokal serta angin kencang. BMKG mencatat hujan sekitar 22 mm per hari di Maluku pada pertengahan Agustus.
Belokan dan perlambatan angin di sekitar Maluku dapat mendukung pembentukan awan hujan. Masyarakat pesisir perlu memperhatikan prakiraan angin kencang karena kondisi tersebut dapat memengaruhi gelombang di Laut Banda, Laut Maluku, dan Laut Arafuru.
Papua
Dominasi Kering/Cerah
Sebagian Papua tetap mengalami curah hujan rendah, terutama wilayah selatan yang juga menghadapi peningkatan risiko titik panas dan kebakaran lahan. Papua Selatan termasuk daerah yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kering berkepanjangan.
Potensi Hujan/Angin Kencang
Papua menjadi salah satu wilayah dengan potensi hujan paling konsisten selama Agustus 2026. Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Barat, dan Papua Barat Daya masih berpeluang mengalami hujan dengan intensitas bervariasi.
Papua Pegunungan berstatus siaga terhadap hujan lebat hingga sangat lebat pada 18–24 Agustus. Sementara itu, Papua Barat, Papua Barat Daya, dan Papua Selatan beberapa kali masuk dalam daftar potensi angin kencang.
Topografi pegunungan serta aktivitas MJO dan Gelombang Kelvin membuat cuaca Papua terbaru dapat berbeda dari dominasi kemarau di wilayah Indonesia lainnya.
Ringkasan Pemetaan Cuaca Agustus 2026
Secara umum, kategori Dominasi Kering/Cerah mencakup sebagian besar Jawa, Bali, NTB, NTT, Sumatra bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan sebagian Papua.
Kategori Potensi Hujan/Angin Kencang lebih menonjol di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bengkulu, Jawa Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, sebagian Sulawesi, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat, dan Papua.
Pemetaan ini menggambarkan kecenderungan regional, bukan kondisi seragam di seluruh provinsi. Hujan lokal, petir, dan angin kencang masih dapat muncul mendadak meskipun cuaca bulan Agustus 2026 secara nasional didominasi kondisi kering.
Imbauan untuk Masyarakat
Masyarakat di daerah kering disarankan menghemat air, tidak melakukan pembakaran terbuka, serta segera melaporkan titik api. Aktivitas luar ruangan pada siang hari juga perlu disertai kecukupan cairan dan perlindungan dari paparan matahari.
Di wilayah yang berpotensi hujan dan angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon, baliho, tiang, atau bangunan rapuh. Informasi harian sebaiknya selalu diperbarui karena prakiraan mingguan dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer.
Referensi Resmi BMKG
- Prakiraan Cuaca Indonesia Periode 18–24 Agustus 2026
- Prakiraan Cuaca Indonesia Periode 14–20 Agustus 2026
- Prakiraan Cuaca Indonesia Periode 7–13 Agustus 2026
- Prakiraan Cuaca Indonesia Periode 4–10 Agustus 2026
- Prediksi Musim Kemarau 2026 Pemutakhiran Juni
