Hujan turun cukup deras.
Jalanan basah.
Atap rumah masih menetes.
Langit belum sepenuhnya cerah.
Secara logika, udara seharusnya terasa:
adem.
Tapi beberapa menit kemudian malah muncul sensasi:
“Kok gerah banget?”
Kipas dinyalakan.
Baju mulai terasa lengket.
Keluar rumah sebentar dan udaranya seperti:
berat.
Padahal hujan baru saja:
berhenti.
Fenomena udara panas setelah hujan seperti ini cukup sering dirasakan, terutama di wilayah dengan udara yang memang lembap.
Yang menarik, penyebabnya bukan sekadar karena:
suhu naik.
Sensasi panas yang dirasakan tubuh dipengaruhi beberapa hal sekaligus.
Mulai dari:
suhu,
kelembapan,
angin,
sinar matahari,
hingga seberapa mudah keringat kita:
menguap.
Jadi ketika setelah hujan terasa sangat gerah, termometer belum tentu menunjukkan suhu yang:
ekstrem.
Masalahnya bisa berada pada:
kelembapan udara.
Kenapa Hujan Biasanya Membuat Udara Lebih Sejuk?
Saat hujan turun, banyak orang langsung merasakan udara menjadi:
lebih dingin.
Ada beberapa proses yang dapat berkontribusi terhadap perubahan tersebut.
Hujan biasanya berkaitan dengan:
awan tebal,
berkurangnya radiasi matahari langsung,
serta perubahan kondisi udara di sekitar kita.
Selain itu, air hujan yang jatuh juga dapat membantu menurunkan suhu permukaan yang sebelumnya:
panas.
Aspal.
Atap.
Tanah.
Bangunan.
Semua permukaan tersebut sebelumnya menerima energi dari:
matahari.
Ketika hujan datang, kondisi lingkungan dapat berubah cukup:
cepat.
Makanya awal hujan sering terasa:
menyegarkan.
Masalahnya muncul setelah:
hujan berhenti.
Setelah Hujan, Air Ada di Mana-Mana
Coba lihat lingkungan setelah hujan.
Jalan:
basah.
Tanah:
basah.
Daun:
basah.
Atap:
basah.
Genangan muncul di beberapa:
tempat.
Air yang sebelumnya berada di atmosfer sekarang berada di banyak permukaan di sekitar:
kita.
Ketika kondisi mulai berubah, sebagian air tersebut akan:
menguap.
Dan ini berkaitan erat dengan kondisi kelembapan di:
udara.
Apa Itu Kelembapan Udara?
Secara sederhana, kelembapan menggambarkan banyaknya kandungan uap air di:
udara.
Dalam laporan cuaca kita sering melihat angka seperti:
60%
75%
85%
atau bahkan lebih tinggi.
Angka yang sering ditampilkan merupakan:
relative humidity atau kelembapan relatif.
Semakin tinggi kelembapan, udara semakin dekat dengan kondisi ketika kandungan uap airnya mencapai kapasitas tertentu pada suhu:
tersebut.
Tetapi buat kehidupan sehari-hari, ada satu efek yang sangat mudah:
dirasakan.
Udara lembap bisa membuat tubuh terasa lebih gerah.
Kenapa Kelembapan Membuat Kita Gerah?
Tubuh manusia memiliki sistem pendingin yang cukup:
pintar.
Ketika tubuh terlalu panas, kita:
berkeringat.
Namun keringat bukan mendinginkan tubuh hanya karena kulit menjadi:
basah.
Bagian pentingnya adalah ketika keringat:
menguap.
Proses penguapan membantu membawa panas dari:
tubuh.
Masalahnya, ketika udara sudah memiliki kelembapan tinggi, penguapan keringat dapat menjadi kurang:
efektif.
Akibatnya keringat lebih lama berada di:
kulit.
Kita mulai merasa:
lengket,
basah,
dan:
gerah.
Jadi Suhu 30°C Bisa Terasa Berbeda?
Bisa.
Bayangkan dua hari dengan suhu udara yang sama:
30°C.
Hari pertama:
udara relatif kering dan ada angin.
Hari kedua:
udara sangat lembap dan hampir tidak ada angin.
Walaupun angka suhu sama, pengalaman tubuh bisa terasa sangat:
berbeda.
Pada kondisi kedua, tubuh mungkin terasa jauh lebih:
panas.
Inilah alasan mengapa melihat suhu saja kadang belum cukup untuk memahami bagaimana cuaca akan:
terasa.
Setelah Hujan, Kelembapan Bisa Tinggi
Ketika hujan baru berhenti, lingkungan masih memiliki banyak:
air.
Pada saat yang sama, udara juga dapat berada dalam kondisi yang sangat:
lembap.
Kalau anginnya:
lemah,
udara lembap tersebut terasa seperti:
diam di sekitar kita.
Keringat tidak cepat:
menguap.
Hasilnya?
Gerah.
Bahkan ketika matahari belum benar-benar:
terik.
Lalu Kenapa Kadang Setelah Hujan Langsung Panas?
Ada skenario yang lebih terasa lagi.
Hujan berhenti.
Awan mulai:
terbuka.
Kemudian matahari:
muncul.
Permukaan yang masih basah mulai menerima energi matahari lagi.
Air mulai lebih aktif:
menguap.
Pada saat yang sama, udara di sekitar kita masih:
lembap.
Kombinasi tersebut dapat membuat suasana terasa seperti:
panas + basah + pengap.
Ini berbeda dengan panas pada udara yang lebih:
kering.
Matahari Setelah Hujan Bisa Terasa Menyengat
Saat awan terbuka setelah hujan, sinar matahari dapat kembali mencapai:
permukaan.
Kulit langsung menerima:
radiasi matahari.
Permukaan tanah dan bangunan kembali:
menghangat.
Tetapi kelembapan belum tentu langsung:
turun.
Jadi tubuh mendapatkan dua masalah sekaligus:
panas dari lingkungan
dan
pendinginan melalui keringat yang tidak terlalu:
efisien.
Tidak heran beberapa orang langsung berkata:
“Panasnya beda.”
Peran Angin Sangat Besar
Sekarang bayangkan kondisi yang sama tetapi ada:
angin.
Sensasinya bisa berubah cukup:
drastis.
Angin membantu memindahkan lapisan udara di sekitar:
kulit.
Ini dapat membantu proses:
penguapan keringat.
Karena itu udara lembap dengan angin sering terasa lebih nyaman dibanding udara lembap yang:
diam.
Makanya setelah hujan berhenti, pertanyaan pentingnya bukan cuma:
berapa suhunya?
Tetapi juga:
ada angin atau tidak?
Kenapa Kamar Bisa Lebih Gerah Setelah Hujan?
Ini sering terjadi.
Di luar hujan sudah:
berhenti.
Tetapi masuk kamar malah terasa:
pengap.
Ada beberapa faktor yang mungkin berkontribusi.
Pertama:
ventilasi.
Kalau pertukaran udara rendah, udara lembap dapat bertahan lebih:
lama.
Kedua:
bangunan menyimpan panas.
Dinding dan atap yang sebelumnya menerima panas matahari tidak otomatis kehilangan seluruh energinya ketika hujan:
turun.
Ketiga:
kelembapan indoor.
Aktivitas manusia sendiri menghasilkan:
uap air.
Mandi.
Memasak.
Menjemur pakaian.
Bahkan:
bernapas.
Kalau ventilasi buruk, semuanya bisa membuat ruangan terasa semakin:
lembap.
Kenapa Lantai Kadang Terasa Lembap?
Pada kondisi kelembapan tinggi, beberapa permukaan rumah dapat terasa:
lembap.
Apalagi jika permukaannya relatif:
dingin.
Uap air di udara dapat mengalami kondensasi ketika bertemu permukaan dengan kondisi yang:
sesuai.
Akibatnya lantai atau permukaan tertentu terasa seperti:
“berkeringat.”
Fenomena ini tidak selalu berarti ada kebocoran.
Namun jika hanya terjadi pada satu area tertentu dan terus berulang, penyebab lain seperti:
rembesan
tetap perlu:
diperiksa.
Kenapa Baju Susah Kering Setelah Hujan?
Masalahnya kembali ke:
penguapan.
Untuk mengering, air di pakaian harus:
menguap.
Ketika kelembapan udara sudah tinggi, proses tersebut dapat berlangsung lebih:
lambat.
Kalau tidak ada:
matahari
dan
sirkulasi udara juga buruk,
pakaian bisa membutuhkan waktu jauh lebih:
lama.
Inilah kenapa menjemur pakaian di ruangan tertutup setelah hujan kadang terasa seperti:
nggak kering-kering.
Angin Bisa Lebih Penting daripada Panas Saat Menjemur
Banyak orang menganggap pakaian hanya membutuhkan:
matahari.
Padahal sirkulasi udara juga sangat:
membantu.
Tempat yang terang tetapi benar-benar tanpa aliran udara belum tentu mengeringkan pakaian seefektif area dengan:
ventilasi baik.
Karena itu ketika cuaca mendung, memberikan jarak antar pakaian dan meningkatkan:
airflow
dapat membantu proses:
pengeringan.
Kenapa Bau Apek Lebih Mudah Muncul?
Pakaian yang terlalu lama:
lembap
memberikan kondisi yang tidak ideal.
Begitu pula dengan:
handuk,
sepatu,
karpet,
dan area rumah yang sulit:
kering.
Kelembapan yang terus bertahan dapat meningkatkan risiko munculnya:
bau tidak sedap
dan masalah kelembapan lain.
Makanya setelah periode hujan panjang, menjaga sirkulasi udara di rumah menjadi semakin:
penting.
Udara Gerah Tidak Selalu Berarti Suhu Sangat Tinggi
Ini poin penting.
Kita sering berkata:
“Hari ini panas banget.”
Padahal yang sebenarnya dirasakan mungkin kombinasi:
suhu cukup tinggi,
kelembapan tinggi,
angin rendah,
dan panas radiasi.
Tubuh tidak membaca angka:
termometer.
Tubuh merasakan seluruh kondisi:
lingkungan.
Itulah kenapa informasi cuaca modern sering menyediakan lebih dari sekadar:
temperature.
Apa Itu “Feels Like”?
Aplikasi cuaca sering menampilkan:
Feels Like
atau:
Terasa Seperti.
Angka ini mencoba memberikan gambaran bagaimana kondisi udara dirasakan oleh:
tubuh,
dengan mempertimbangkan faktor tertentu selain suhu aktual.
Pada cuaca panas dan lembap, nilai “terasa seperti” dapat lebih tinggi daripada angka suhu:
aktual.
Jadi misalnya suhu menunjukkan:
31°C,
kondisinya mungkin terasa lebih panas karena:
kelembapan.
Apa Itu Heat Index?
Untuk kondisi panas, salah satu konsep yang sering digunakan adalah:
heat index.
Secara sederhana, heat index menggabungkan pengaruh:
suhu udara
dan
kelembapan relatif
untuk memperkirakan bagaimana panas terasa bagi:
tubuh.
Semakin panas dan semakin lembap kondisinya, sensasi panas dapat menjadi semakin:
berat.
Ini juga menjelaskan kenapa dua kota dengan suhu sama belum tentu terasa:
sama.
Kenapa Daerah Tropis Sering Terasa Gerah?
Wilayah tropis memiliki kombinasi yang sangat:
khas.
Suhu relatif:
hangat.
Kandungan uap air bisa:
tinggi.
Curah hujan juga dapat:
besar.
Indonesia sendiri memiliki banyak wilayah dengan kondisi atmosfer yang:
lembap.
Jadi sensasi:
panas tetapi basah
cukup familiar dalam kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan beberapa daerah beriklim lebih kering yang panasnya dapat terasa:
kering.
Panas Kering vs Panas Lembap
Misalnya dua lokasi sama-sama:
32°C.
Lokasi A memiliki kelembapan:
lebih rendah.
Lokasi B:
lebih tinggi.
Di lokasi A, keringat relatif lebih mudah:
menguap.
Di lokasi B, tubuh dapat terasa:
lebih lengket.
Akibatnya orang sering menggambarkan panas lembap sebagai:
sumuk, pengap, atau gerah.
Jadi bukan hanya:
berapa derajat.
Tetapi juga:
berapa banyak uap air di udara.
Apakah Hujan Selalu Membuat Kelembapan 100%?
Tidak sesederhana itu.
Kelembapan relatif dipengaruhi oleh:
kandungan uap air
dan
suhu udara.
Kondisinya juga dapat berbeda antara:
permukaan,
lapisan udara,
lokasi,
dan waktu.
Jadi jangan menganggap setiap hujan otomatis berarti angka kelembapan di aplikasi pasti:
100%.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa hujan biasanya terjadi dalam lingkungan atmosfer yang memiliki kandungan air:
tinggi.
Kenapa Kadang Sebelum Hujan Justru Lebih Gerah?
Ini juga pengalaman yang:
umum.
Sore hari.
Langit mulai gelap.
Awan tebal muncul.
Tetapi sebelum hujan:
gerah banget.
Kondisi sebelum hujan dapat melibatkan:
udara hangat,
kelembapan tinggi,
dan pergerakan udara tertentu.
Tubuh merasakan kombinasi tersebut sebagai:
gerah.
Kemudian ketika hujan dan udara dingin turun ke permukaan, sensasinya bisa berubah menjadi:
lebih sejuk.
Kenapa Setelah Hujan Kadang Malah Dingin?
Nah, kalau begitu kenapa ada hari ketika setelah hujan justru:
dingin banget?
Karena kondisi atmosfer setiap hujan tidak:
sama.
Jika setelah hujan:
awan masih tebal,
tidak ada matahari,
udara yang lebih dingin masih dominan,
dan angin cukup terasa,
lingkungan dapat tetap:
sejuk.
Sebaliknya kalau:
awan cepat terbuka,
matahari kembali muncul,
kelembapan tinggi,
dan angin lemah,
sensasinya dapat menjadi:
gerah.
Jadi “setelah hujan” bukan satu kondisi cuaca yang:
seragam.
Waktu Hujan Juga Berpengaruh
Hujan pagi, siang, sore, dan malam dapat menghasilkan pengalaman yang:
berbeda.
Hujan Pagi
Permukaan mungkin belum menyimpan sebanyak panas seperti:
siang hari.
Hujan Siang
Lingkungan sebelumnya sudah menerima radiasi matahari selama:
berjam-jam.
Hujan Sore
Bisa terjadi setelah periode pemanasan sepanjang:
hari.
Hujan Malam
Tidak ada pemanasan matahari langsung setelah hujan:
berhenti.
Karena itu sensasi udara setelah hujan juga sangat dipengaruhi:
waktu.
Permukaan Kota Menyimpan Panas
Di kawasan perkotaan terdapat banyak:
aspal,
beton,
atap,
bangunan,
dan permukaan buatan lainnya.
Material tersebut dapat menyerap energi matahari pada:
siang hari.
Ketika hujan datang, udara mungkin terasa lebih:
sejuk.
Tetapi panas yang tersimpan di lingkungan tidak selalu langsung:
hilang.
Setelah hujan berhenti, pertukaran panas antara permukaan dan udara tetap dapat:
berlangsung.
Urban Heat Island
Kota besar juga dapat mengalami fenomena:
urban heat island.
Secara umum, kawasan perkotaan dapat memiliki kondisi suhu yang lebih tinggi dibanding area sekitarnya karena karakter:
permukaan,
bangunan,
aktivitas manusia,
dan minimnya vegetasi di beberapa:
wilayah.
Fenomena ini tidak disebabkan oleh hujan.
Tetapi ia menjadi bagian dari konteks kenapa udara perkotaan bisa tetap terasa:
hangat
bahkan setelah hujan.
Pohon Membantu Membuat Lingkungan Lebih Nyaman
Vegetasi dapat membantu kondisi mikroklimat melalui:
naungan
dan
proses evapotranspirasi.
Area dengan banyak pohon sering memiliki pengalaman termal berbeda dibanding area yang didominasi:
beton dan aspal.
Itulah kenapa berjalan di bawah:
pepohonan
bisa terasa jauh lebih nyaman dibanding berdiri di area parkir terbuka pada hari yang:
sama.
Kenapa Mobil Gerah Setelah Hujan?
Mobil yang tertutup memiliki volume udara:
kecil.
Kalau sebelumnya berada di luar dan interior menyimpan panas, kabin dapat terasa:
pengap.
Setelah hujan, kelembapan dari:
pakaian,
sepatu,
payung,
dan udara luar
juga bisa masuk.
Akibatnya ketika beberapa orang masuk ke mobil:
kaca mulai berembun.
Ini berkaitan dengan:
kelembapan dan perbedaan temperatur.
Kenapa Kaca Mobil Berembun?
Udara mengandung:
uap air.
Ketika udara lembap bertemu permukaan kaca dengan temperatur yang memungkinkan terjadinya:
kondensasi,
uap air berubah menjadi titik-titik:
air.
Itulah embun.
Pada kendaraan, perbedaan suhu antara:
kabin,
kaca,
dan udara luar
dapat membuat fenomena ini sangat:
jelas.
Embun Juga Bisa Terjadi di Rumah
Prinsip yang sama dapat terlihat pada:
gelas minuman dingin.
Bagian luar gelas menjadi:
basah.
Air tersebut bukan bocor dari dalam:
gelas.
Uap air di udara mengalami kondensasi pada permukaan yang:
dingin.
Fenomena sederhana ini membantu kita memahami betapa banyak air yang sebenarnya berada di udara dalam bentuk:
uap.
Apakah Membuka Jendela Selalu Membantu?
Tidak selalu.
Kalau udara luar lebih nyaman dan ada:
angin,
membuka jendela dapat meningkatkan:
ventilasi.
Tetapi jika udara luar sangat:
panas dan lembap,
hasilnya belum tentu membuat ruangan terasa jauh lebih:
nyaman.
Strateginya tergantung:
kondisi.
Yang penting adalah menciptakan pertukaran udara ketika memang:
menguntungkan.
Kipas Tidak Menurunkan Suhu Ruangan Secara Drastis
Kipas membuat kita merasa:
lebih nyaman
karena meningkatkan aliran udara di sekitar:
tubuh.
Ini membantu pelepasan panas dan penguapan:
keringat.
Tetapi kipas bukan pendingin udara yang secara langsung menurunkan temperatur seluruh:
ruangan.
Itulah kenapa kipas terasa sangat membantu ketika diarahkan ke:
tubuh.
AC Mengubah Kondisi Udara dengan Cara Berbeda
Air conditioner tidak hanya mendinginkan:
udara.
Dalam proses pendinginan, AC juga dapat membantu mengurangi kandungan kelembapan di:
ruangan.
Makanya ruangan ber-AC sering terasa bukan hanya:
dingin,
tetapi juga kurang:
lembap.
Namun suhu terlalu rendah juga tidak selalu:
diperlukan.
Kenyamanan bergantung pada kombinasi temperatur, kelembapan, pakaian, aktivitas, dan:
individu.
Cara Mengurangi Gerah Setelah Hujan di Rumah
Tidak perlu langsung melakukan sesuatu yang:
rumit.
Ada beberapa langkah sederhana.
Pertama: tingkatkan sirkulasi udara.
Gunakan ventilasi atau kipas sesuai:
kondisi.
Kedua: jangan menumpuk pakaian basah.
Segera gantung agar mendapatkan:
airflow.
Ketiga: hindari menjemur terlalu banyak pakaian di ruangan tertutup.
Air dari pakaian akan berpindah ke:
udara.
Keempat: cek area yang terus lembap.
Terutama kamar mandi, sudut ruangan, dan:
lemari.
Kelima: gunakan exhaust fan bila tersedia.
Terutama pada area yang menghasilkan banyak:
uap air.
Jangan Lupa Minum
Cuaca gerah membuat tubuh:
berkeringat.
Walaupun tidak merasa sedang berada di bawah matahari langsung, tubuh tetap kehilangan:
cairan.
Minum secara teratur penting terutama ketika:
beraktivitas.
Jangan hanya menunggu sampai merasa:
sangat haus.
Pilih Pakaian yang Nyaman
Saat udara panas dan lembap, pakaian yang terlalu:
tebal
atau tidak nyaman untuk kondisi tersebut dapat membuat sensasi gerah semakin:
terasa.
Pilih pakaian sesuai:
aktivitas
dan
lingkungan.
Kalau baru pulang kehujanan, jangan terlalu lama menggunakan pakaian yang:
basah.
Selain tidak nyaman, tubuh juga akan kesulitan mengatur kenyamanan:
termal.
Hindari Aktivitas Berat Saat Terasa Sangat Panas
Kalau setelah hujan matahari langsung muncul dan udara menjadi sangat:
gerah,
perhatikan kondisi tubuh ketika melakukan aktivitas:
fisik.
Cari:
tempat teduh,
istirahat,
dan cukup:
minum.
Terutama ketika kondisi panas terasa lebih berat daripada:
biasanya.
Perhatikan Tanda Tubuh Kepanasan
Cuaca panas bukan sekadar masalah:
kenyamanan.
Jika seseorang mengalami gejala seperti:
pusing,
lemas,
mual,
sakit kepala,
atau kondisi yang memburuk ketika berada di lingkungan panas,
segera berpindah ke tempat yang lebih:
sejuk
dan lakukan pendinginan serta hidrasi yang:
sesuai.
Gejala berat atau memburuk membutuhkan pertolongan:
medis.
Cara Membaca Cuaca Biar Nggak Cuma Lihat Suhu
Ketika membuka aplikasi cuaca, coba lihat beberapa:
parameter.
Bukan cuma:
Temperature.
Perhatikan juga:
Humidity
untuk kelembapan.
Feels Like
untuk gambaran sensasi panas.
Wind
untuk kecepatan angin.
Rain Probability
untuk kemungkinan hujan.
Dan bila tersedia:
UV Index.
Dengan begitu informasi cuaca menjadi jauh lebih:
berguna.
Contoh Membandingkan Dua Kondisi
Kondisi A
Suhu: 31°C
Kelembapan: relatif tinggi
Angin: lemah
Matahari: muncul setelah hujan
Kemungkinan sensasi:
gerah dan lengket.
Kondisi B
Suhu: 29°C
Ada angin
Langit masih berawan
Tidak ada matahari langsung
Kemungkinan sensasi:
lebih nyaman.
Perbedaannya bukan hanya dua derajat.
Seluruh kondisi atmosfer ikut menentukan:
pengalaman.
Jangan Mengandalkan Langit Saja
Langit mendung tidak selalu berarti:
dingin.
Langit cerah juga tidak selalu berarti kondisi paling:
gerah.
Mendung dengan kelembapan tinggi dan angin sangat lemah bisa terasa:
pengap.
Sementara hari cerah dengan angin cukup kuat dapat terasa lebih:
nyaman.
Cuaca adalah kombinasi banyak:
variabel.
Kenapa Informasi Kelembapan Berguna dalam Kehidupan Sehari-hari?
Kelembapan dapat membantu kita membuat keputusan kecil.
Misalnya:
kapan menjemur pakaian,
apakah perlu meningkatkan ventilasi,
kenapa kamar terasa pengap,
atau kenapa olahraga terasa lebih berat dibanding:
biasanya.
Jadi humidity bukan sekadar angka tambahan di aplikasi:
cuaca.
Ia punya hubungan langsung dengan pengalaman:
sehari-hari.
Cuaca yang Sama Bisa Dirasakan Berbeda oleh Setiap Orang
Ada orang yang tahan:
panas.
Ada yang cepat:
berkeringat.
Ada yang merasa nyaman di suhu tertentu sementara orang lain sudah mencari:
kipas.
Pakaian.
Aktivitas.
Usia.
Kondisi tubuh.
Paparan matahari.
Semuanya dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan:
cuaca.
Jadi istilah “terasa panas” tetap memiliki unsur:
personal.
Kenapa Malam Setelah Hujan Kadang Tetap Gerah?
Tidak ada matahari.
Harusnya:
dingin.
Tetapi malam tetap bisa terasa:
gerah.
Salah satu penyebabnya adalah kelembapan yang masih:
tinggi.
Selain itu, lingkungan perkotaan dapat melepaskan panas yang sebelumnya tersimpan pada:
siang hari.
Kalau angin juga lemah, udara terasa:
stagnan.
Hasilnya adalah malam yang:
lengket.
Setelah Hujan Bukan Berarti Udara Langsung “Bersih” dan Sejuk
Hujan memang dapat mengubah kondisi atmosfer dan membantu menghilangkan sebagian partikel dari:
udara.
Tetapi asumsi:
hujan = pasti sejuk
tidak selalu berlaku.
Begitu hujan berhenti, kondisi berikutnya bergantung pada:
awan,
matahari,
angin,
kelembapan,
permukaan,
dan dinamika atmosfer lainnya.
Makanya dua hujan pada hari berbeda dapat menghasilkan sensasi setelah hujan yang:
berlawanan.
Jadi, Kenapa Setelah Hujan Malah Panas dan Gerah?
Jawaban singkatnya:
karena tubuh tidak merasakan suhu saja.
Setelah hujan, lingkungan masih sangat:
basah.
Kelembapan udara dapat:
tinggi.
Kalau angin:
lemah,
keringat lebih sulit:
menguap.
Kalau matahari kembali:
muncul,
permukaan mulai menerima panas lagi sementara air terus:
menguap.
Kombinasi tersebut menciptakan kondisi yang kita kenal sebagai:
gerah.
Jadi ketika lain kali hujan berhenti dan beberapa menit kemudian Anda berkata:
“Kok bukannya adem malah panas?”
coba buka aplikasi cuaca.
Jangan cuma lihat:
31°C.
Lihat juga:
Humidity.
Lihat:
Wind.
Lihat:
Feels Like.
Karena sering kali jawabannya bukan berada pada angka suhu yang:
besar.
Tetapi pada banyaknya air yang tidak terlihat dan sedang berada tepat di sekitar:
kita.
